
Faathimatussa’diyyah, yang akrab disapa Faathimah, merupakan alumni MA Andalusia Kebasen sekaligus santri Pondok Pesantren At Taujieh Al Islamy Andalusia Kebasen di bawah asuhan KH. Zuhrul Anam Hisyam. Keberhasilannya menjadi capaian membanggakan sekaligus membuka peluang untuk melanjutkan pendidikan ke salah satu negara yang dikenal sebagai pusat keilmuan Islam dan tradisi akademik di dunia.
Seleksi beasiswa tersebut diikuti sekitar 600 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka bersaing ketat untuk memperebutkan 50 kuota beasiswa, yang terdiri atas 30 kuota jenjang S1, 10 kuota S2, dan 10 kuota S3.
Program beasiswa tersebut merupakan bagian dari kerja sama Moroccan Agency for International Cooperation (AMCI) melalui Kedutaan Besar Kerajaan Maroko di Indonesia. Seleksi dilaksanakan secara bertahap untuk menjaring calon siswa terbaik yang dinilai memiliki kesiapan akademik, kemampuan bahasa Arab, serta wawasan keislaman dan kebangsaan.
CBT Menjadi Tahap Awal Seleksi
Salah satu tahapan penting dalam proses seleksi adalah Computer Based Test (CBT). Tes ini menjadi instrumen awal untuk mengukur kemampuan bahasa Arab para peserta, mengingat penguasaan bahasa Arab merupakan salah satu persyaratan penting bagi mahasiswa yang akan mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi Maroko.
Menurut Faathimah, kemampuan bahasa Arab memiliki peran fundamental dalam menentukan keberhasilan mahasiswa selama menjalani proses akademik di perguruan tinggi tujuan.
“Seleksi ini merupakan bagian dari syarat mahasiswa Indonesia yang akan belajar di Timur Tengah. Kemampuan bahasa Arab menjadi aspek fundamental karena akan menentukan keberhasilan mereka dalam mengikuti proses akademik di kampus tujuan,” ujar Faathimah.
Setelah dinyatakan lolos tahap CBT, peserta kemudian mengikuti tahap wawancara. Pada tahap ini, peserta diuji dalam beberapa aspek, antara lain kemampuan hafalan Al-Qur’an, qiraatul kutub, wawasan keislaman, serta wawasan kebangsaan.
Adapun hasil akhir seleksi ditentukan berdasarkan akumulasi nilai dengan komposisi 60 persen dari hasil CBT dan 40 persen dari hasil wawancara.
Membawa Nama Baik Madrasah dan Pesantren
Keberhasilan Faathimatussa’diyyah tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi MA Andalusia Kebasen dan PP At Taujieh Al Islamy Andalusia Kebasen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pembinaan akademik, penguasaan bahasa Arab, pendidikan keislaman, serta tradisi pesantren dapat menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat internasional.
Bagi MA Andalusia Kebasen, prestasi tersebut menjadi motivasi untuk terus memberikan ruang dan pendampingan kepada para peserta didik agar mampu mengembangkan potensi akademik, keagamaan, bahasa, dan wawasan global.
Faathimah berharap kesempatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk memperluas wawasan, memperdalam ilmu, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.
“Semoga Allah memberikan kemudahan dalam seluruh prosesnya dan saya bisa menjadi pribadi yang lebih bermanfaat, membawa nama baik madrasah, pondok pesantren, bangsa, dan Indonesia di kancah internasional,” harapnya.
Keberhasilan Faathimatussa’diyyah menjadi bukti bahwa dari madrasah dan pesantren, generasi muda dapat melangkah menuju pusat-pusat keilmuan dunia.




Tinggalkan komentar